B.J. Habibie, sang penemu teori Crack-Progression

Siapa sih yang tidak kenal dengan sosok B.J.Habibie..?? semua orang orang pasti tau dengan sosok beliau, semasa menempuh pendidikan di Jerman hidup beliau terbilang susah. Kadang beliau tidak punya makanan dan hanya mengandalkan kiriman dari sang ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo.  


Maklum saja, Beliau tak mendapat beasiswa penuh, seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia lain. Beliau hanya bermodal 'paspor hijau'. Sementara lainnya 'paspor merah'. Paspor dinas.  

B.J. Habibie (Rudy Habibie) dengan pesawat buatan pertamanya di Koln-kalk, Jerman
 
"Kiriman ibu saya sering telat. Saya sering kelaparan. Tapi ada kawan baik pada saya. Namanya Ilona. Dia sering datangi saya ke perpustakaan, beri apel dan roti," kata Habibie mengenang masa muda di sekolah Jerman.  

Jika musim libur tiba, Habibie tak bisa berleha-leha seperti temannya. Ia justru harus sibuk bekerja, mencari uang tambahan biaya hidup di negeri rantau. Jika ada sisanya, ia beli buku. 

Anak ke-4 dari 8(delapan) bersaudara ini pernah berilmu di SMAK Dago. Beliau belajar teknik mesin di Universitas Indonesia Bandung (Sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954. Pada 1955-1965 beliau melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH) Aachen, Jerman Barat, beliau berhasil menyesaikan studi Strata 1 dan menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 saat beliau masih berusia 22 tahun, pada tahun 1965 beliau menyelesaikan studi strata 3(S3) dan mendapatkan gelar doktor ingenieur(Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.   

Kejeniusan Beliau membuat takjub dunia. Dibuktikan ketika menemukan teori-yang disebut dunia internasional sebagai teori-krack progression. Teori ini menemukan perhitungan titik rawan kelelahan badan pesawat.  

Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat.  

Ketika menyentuh landasan, sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin ini menanggung empasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (crack). Titik rambat tersebut semakin hari kian memanjang dan bercabang-cabang. Beliau yang kemudian menemukan bagaimana rambatan titik crack (keretakan) itu bekerja.   

Dengan teori ini industri pembuat pesawat bisa mengerjakan badan pesawat dengan perhitungan yang lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.  

Berkat berbagai prestasinya, Beliau mendapat penghargaan di antaranya bidang kedirgantaraan, Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences.  
Selepas meraih gelar doktor, Beliau bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg, sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang (1965-1969).  Kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973).  

B.J. Habibie
Karier Habibie makin mencorong, pada 1969 dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978.  Namun setahun kemudian, Habibie rela meletakkan jabatan prestisius itu saat 'Ibu Pertiwi' memanggil pulang. Ia diminta membangun industri pesawat terbang di negeri sendiri.  

"Di situ (MBB Hamburg) lahir Airbus, yang sekarang membuat A-380 di situ. Waktu saya mulai ke situ 3.000 (karyawan), waktu saya tinggalkan 4.500, sekarang 16.000, " kata Habibie.  
Dalam skala internasional, Habibie terlibat berbagai proyek desain dan konstruksi pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (Military transport), Hansa Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dengan teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal),   

Kemudian CN-235 dan CN-250 (pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, ia secara tidak langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.  


Habibie & Ainun
Dalam sebuah bukunya berjudul 'Habibie dan Ainun', Jerman menawari Habibie untuk menjadi warga negara kehormatan. Sebuah tawaran yang amat jarang diberikan oleh Jerman. Namun, Habibie tidak silau dengan tawaran itu. Habibie memilih setia menjadi WNI.  Menolak tawaran Jerman.


"Sekalipun menjadi warga negara Jerman, kalau suatu saat Tanah Air memanggil, maka Paspor Jerman akan saya robek dan saya akan kembali ke Tanah Air," katanya.

Seperti kata Pepatah; "Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang".
Bagi Habibie, setetes keringat yang menitik di tanah kelahiran, akan lebih berharga sebagai perekat negeri, daripada keringat yang tertumpah di negeri asing!

0 Comments


EmoticonEmoticon